Rabu, 17 Agustus 2016

Perlawanan fisik terhadap belanda (VOC)

1)        Perlawanan Sultan Nuku
Perlawanan Sultan Nuku dari kerajaan Tidore terhadap VOC disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain VOC melakukan monopoli perdagangan di Maluku dan penangkapan Sultan Jamaluddin oleh VOC tahun 1779. Pada tahun 1780, Sultan Nuku (putra Sultan Jamaluddin) memimpin rakyat Tidore melawan VOC. Ia berhasil mendamaikan Gubernur Ambon dengan Gubernur Ternate yang sedang berselisih agar bersatu dan bersama-sama mengusir penjajahan. Sultan Nuku juga mengadakan hubungan dengan Inggris yang waktu itu sedang berselisih dengan Belanda. Mereka bersama-sama melawan Belanda dan berhasil merebut kota Soa Siu dari kekuasaan Belanda pada tanggal 20 Juni 1801. Akhirnya Ternate dapat dipersatukan kembali.
2)        Perlawanan Sultan Agung dari Mataram 1613-1645
Keberadaan VOC di Batavia menghalangi usaha Sultan Agung menyatukan Nusantara. Oleh karena itu, Sultan Agung memutuskan untuk mengusir VOC dari Batavia, dengan alasan Belanda tidak mengetahui kedaulatan Mataram dan Belanda sering merintangi perdagangan Mataram dengan Maluku. Serangan Mataram terhadap VOC di Batavia pertama kali dilakukan tahun 1628 dipimpin Tumenggung Bahurekso yang dibantu oleh Dipati Ukur dan Tumenggung Suro Agul-Agul, tetapi juga gagal. Beberapa faktor yang menyebabkan kegagalan serangan pasukan mataram antara lain pasukan Mataram kalah persenjataan, kekurangan makan, timbulnya wabah penyakit yang menyerang prajurit, jarak Mataram-Batavia jauh sekali sehingga pertahanan Mataram lemah.
Pada tahun 1645 Sultan Agung wafat. Kemudian digantikan oleh Amangkurat I (1645-1677) politik konfrontasi Sultan Agung diganti dengan politik persahabatan, sehingga hubungan diplomat dan dagang dengan VOC dibuka lagi. Pada waktu Amangkurat I memerintah di Mataram terjadi pemberotakan Trunojoyo yang dibantu Pangeran Kajoran dan Pangeran Adipati Anom (putra Amangkurat I), sehingga Mataram jatuh ke tangan pasukan Trunojoyo (1677). Amangkurat I berusaha melarikan diri dan minta bantuan VOC di Tegal. Namun sebelum tercapai tujuannya, di Desa Tegal Arum, Amangkurat I keburu meninggal. Pangeran Adipati Anom yang semula memusuhi ayahnya kemudian berbalik dan dinobatkan menjadi Sultan dengan gelar Amangkkurat II. Usaha mencari bantuan diteruskan oleh Amangkurat Ii dengan menghubungi VOC ke Semarang. VOC mau membantu Amangkurat II asalkan beberapa permintaannya dikabulkan. Akhirnya pemberotakan Trunojoyo berhasil dipadamkan tahun 1680, dan konsekuensinya Amangkurat II harus menandatangi perjanjian yang berisi:
a)         Daerah Karawang, Priangan, Semarang, dan sekitarnya harus diserahkan ke VOC.
b)        Pesisir Utara Jawa harus digadaikan kepada VOC selama hutang biaya perang belum lunas.
c)         Impor kain dan ekspor beras di Mataram dimonopoli VOC.
d)        Tiap tahun Mataram harus menyerahkan sejumlah beras kepada VOC.
e)         Di Kartasura (ibukota Mataram yang baru) ditempatkan sejumlah pasukan VOC.
Melihat isi perjanjian tersebut berarti pengaruh VOC telah masuk ke Mataram, dan abad ke-18 Mataram secara mutlak dikuasai VOC. Karena itu setiap pergantian tahta harus seizin VOC.
3)        Perlawanan Sultan Ageng Tirtayasa (1650-1682)
Sultan Ageng Tirtayasa adalah raja Banten terbesar dalam perlawanan terhadap Belanda (VOC). Namun putranya Sultan Haji (anak dari selir) bersahabat dengan Belanda, sehingga pihak belanda turut campur atas tahta di Banten. Melihat hal itu, Sultan Ageng mengobarkan perang melawan Belanda dengan tujuan agar Belanda tidak ikut campur atas Banten, dan menurunkan Sultan Haji dari tahtanya atas Banten. Sultan Haji minta bantuan Belanda. Pada tahun 1681, Sultan Ageng Tirtayasa dikalahkan oleh Sultan Haji yang dibantu VOC. Pada tahun 1683 Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap VOC dan dibawa ke Batavia. Istana Banten diserahkan kepada Sultan Haji. Berdasarkan perjanjian Sultan Haji dan VOC, maka Banten dikuasai VOC, dan VOC mendapat hak monopoli di Banten.
4)        Perlawanan Sultan Hasanuddin dari Makassar
Sultan Hasanudin diberi julukan Ayam Jantan dari Timur, karena keberaniannya dalam melawan penjajah. Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin Makasar menjadi pelabuhan transito untuk kawasan timur Nusantara, sehingga ramai dan sangat menarik perhatian. Belanda yang selalu merugikan rakyat itu berusaha menguasai daerah Maluku dan Makasar.
Untuk kepentingan ini Belanda melakukan politik adu domba yakni membantu Arupalaka Raja Bone. Usaha ini berhasil, sehingga timbul perang saudara antara Makasar melawan Bone. Belanda membantu Bone. Akibatnya Sultan Hasanuddin kalah, dan harus menandatangi perjanjian Bongaya tahun 1667 yang isinya:
a)         Makasar melepaskan daerah Bugis dan Bima.
b)        Arupalaka diangkat menjadi raja Bone.
c)         VOC bebas berdgang di Makasar.     
d)        VOC memperoleh monopoli dagang di Makasar.

e)         Orang-orang asing dilarang tinggal di Makasar.

Sumber: MODUL DAN LEMBAR KERJA SISWA kelas XI IPS untuk SMA/MA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar