1)
Perlawanan
Sultan Nuku
Perlawanan Sultan Nuku dari kerajaan Tidore
terhadap VOC disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain VOC melakukan
monopoli perdagangan di Maluku dan penangkapan Sultan Jamaluddin oleh VOC tahun 1779. Pada tahun 1780, Sultan Nuku (putra Sultan Jamaluddin) memimpin rakyat Tidore melawan VOC. Ia berhasil
mendamaikan Gubernur Ambon dengan Gubernur Ternate yang sedang berselisih agar
bersatu dan bersama-sama mengusir penjajahan. Sultan Nuku juga mengadakan hubungan dengan Inggris yang waktu itu
sedang berselisih dengan Belanda. Mereka bersama-sama melawan Belanda dan
berhasil merebut kota Soa Siu dari kekuasaan Belanda pada tanggal 20 Juni 1801.
Akhirnya Ternate dapat dipersatukan kembali.
2)
Perlawanan
Sultan Agung dari Mataram 1613-1645
Keberadaan VOC
di Batavia menghalangi usaha Sultan
Agung menyatukan Nusantara. Oleh karena itu, Sultan Agung memutuskan untuk
mengusir VOC dari Batavia, dengan alasan Belanda tidak mengetahui kedaulatan Mataram
dan Belanda sering merintangi perdagangan Mataram dengan Maluku. Serangan Mataram
terhadap VOC di Batavia pertama kali dilakukan tahun 1628 dipimpin Tumenggung Bahurekso yang dibantu oleh Dipati Ukur dan Tumenggung Suro Agul-Agul, tetapi juga gagal. Beberapa faktor yang
menyebabkan kegagalan serangan pasukan mataram antara lain pasukan Mataram kalah
persenjataan, kekurangan makan, timbulnya wabah penyakit yang menyerang
prajurit, jarak Mataram-Batavia jauh sekali sehingga pertahanan Mataram lemah.
Pada tahun 1645 Sultan Agung wafat. Kemudian digantikan
oleh Amangkurat I (1645-1677)
politik konfrontasi Sultan Agung diganti
dengan politik persahabatan, sehingga hubungan diplomat dan dagang dengan VOC dibuka
lagi. Pada waktu Amangkurat I memerintah
di Mataram terjadi pemberotakan Trunojoyo yang dibantu Pangeran Kajoran dan Pangeran
Adipati Anom (putra Amangkurat I), sehingga Mataram jatuh ke tangan pasukan
Trunojoyo (1677). Amangkurat I berusaha
melarikan diri dan minta bantuan VOC di Tegal. Namun sebelum tercapai
tujuannya, di Desa Tegal Arum, Amangkurat
I keburu meninggal. Pangeran Adipati
Anom yang semula memusuhi ayahnya kemudian berbalik dan dinobatkan menjadi Sultan
dengan gelar Amangkkurat II. Usaha
mencari bantuan diteruskan oleh Amangkurat Ii dengan menghubungi VOC ke Semarang.
VOC mau membantu Amangkurat II asalkan
beberapa permintaannya dikabulkan. Akhirnya pemberotakan Trunojoyo berhasil
dipadamkan tahun 1680, dan konsekuensinya Amangkurat
II harus menandatangi perjanjian yang berisi:
a)
Daerah Karawang, Priangan, Semarang, dan
sekitarnya harus diserahkan ke VOC.
b)
Pesisir Utara Jawa harus digadaikan
kepada VOC selama hutang biaya perang belum lunas.
c)
Impor kain dan ekspor beras di Mataram dimonopoli
VOC.
d)
Tiap tahun Mataram harus menyerahkan
sejumlah beras kepada VOC.
e)
Di Kartasura (ibukota Mataram yang baru)
ditempatkan sejumlah pasukan VOC.
Melihat isi
perjanjian tersebut berarti pengaruh VOC telah masuk ke Mataram, dan abad ke-18
Mataram secara mutlak dikuasai VOC. Karena itu setiap pergantian tahta harus
seizin VOC.
3)
Perlawanan
Sultan Ageng Tirtayasa (1650-1682)
Sultan
Ageng Tirtayasa adalah raja Banten terbesar dalam
perlawanan terhadap Belanda (VOC). Namun putranya Sultan Haji (anak dari selir) bersahabat dengan Belanda, sehingga
pihak belanda turut campur atas tahta di Banten. Melihat hal itu, Sultan Ageng mengobarkan perang melawan
Belanda dengan tujuan agar Belanda tidak ikut campur atas Banten, dan
menurunkan Sultan Haji dari tahtanya
atas Banten. Sultan Haji minta
bantuan Belanda. Pada tahun 1681, Sultan
Ageng Tirtayasa dikalahkan oleh Sultan
Haji yang dibantu VOC. Pada tahun 1683 Sultan
Ageng Tirtayasa ditangkap VOC dan dibawa ke Batavia. Istana Banten diserahkan
kepada Sultan Haji. Berdasarkan
perjanjian Sultan Haji dan VOC, maka Banten dikuasai VOC, dan VOC mendapat hak
monopoli di Banten.
4)
Perlawanan
Sultan Hasanuddin dari Makassar
Sultan
Hasanudin diberi julukan Ayam
Jantan dari Timur, karena keberaniannya dalam melawan penjajah. Pada masa
pemerintahan Sultan Hasanuddin Makasar
menjadi pelabuhan transito untuk kawasan timur Nusantara, sehingga ramai dan
sangat menarik perhatian. Belanda yang selalu merugikan rakyat itu berusaha
menguasai daerah Maluku dan Makasar.
Untuk kepentingan
ini Belanda melakukan politik adu domba yakni membantu Arupalaka Raja Bone. Usaha ini berhasil, sehingga timbul perang
saudara antara Makasar melawan Bone. Belanda membantu Bone. Akibatnya Sultan Hasanuddin kalah, dan harus
menandatangi perjanjian Bongaya tahun 1667 yang isinya:
a)
Makasar melepaskan daerah Bugis dan Bima.
b)
Arupalaka diangkat menjadi raja Bone.
c)
VOC bebas berdgang di Makasar.
d)
VOC memperoleh monopoli dagang di Makasar.
e)
Orang-orang asing dilarang tinggal di Makasar.
Sumber:
MODUL DAN LEMBAR KERJA SISWA kelas XI IPS untuk SMA/MA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar